Ikan Napoleon Yang Kian Terusik

Indonesia merupakan Negara kepulauan , dan merupakan Negara di wilayah indo-pasifik. berdasarkan  hasil penelitian allen dan adrin menyatakan bahwa Indonesia memiliki 2057 spesies dalam 113 famili ikan karang atau 39 % dari jumlah ikan karang dunia. Seperti yang kita ketahuin bahwa terumbu karang sangat bermanfaat yaitu sebagai tempat perlindungan hewan karang, tempat mencari makan hewan karang , juga tempat pemijahan hewan karang . ikan – ikan karang sangat beraneka ragam , tak hanya itu saja namun sangan cantik-cantik dilihat dari warna ikannya .

banyak sekali ikan karang yang dijual sebagai ikan hias maupun santapan yang bernilai ekonomis tinggi, sehingga hal ini membuat para nelayan banyak yang mengincar ikan karang sebagai hasil tangkapannya . namun banyak nelayan yang masih belum mengetahui batasan – batasan dalam mengambil ikan karang juga belum banyak mengetahui cara untuk mengambil ikan karang dengan cara yang benar yang mengakibatkan  terjadinya kerusakan terumbu karang dan semakin berkurangnya keberadaan ikan karang

salah satu ikan karang yang bernilai ekonomi tinggi yaitu ikan napoleon. Ikan napoleon ini memang tidak secantik ikan karang lainnya , namun ikan napoleon ini banyak diminati oleh pasar internasional akan dagingnya yang lezat , banyak orang yang berani merogoh kocek yang cukup tinggi untuk menikmati dagingnya yang lezat . bahkan ikan napoleon ini pernah mencapai harga 1,9 juta rupiah  per kilo gramnya . Beberapa Negara yang dicatat sebagai  pengimpor ikan ini adalah Singapura, Cina, Hongkong dan Jepang. Juga pernah dicatat beberapa pesanan berasal dari  Canada, Amerika dan beberapa nagara di Eropa. ukuran ikan napoleon ini dapat mencapai 2 meter dan beratnya dapat mencapai 180 kg . namun hal itu dapat dicapai saat umur ikan tersebut sekitar 50 tahun. Dengan dagingnya yang lezat dan ukurannya yang bisa mencapai raksasa sertan bernilai jual tinggi banyak nelayan yang menangkap ikan ini , sehingga tanpa disadari keberadaan ikan ini semakin sedikit .

Indonesia merupakan wilayah yang memiliki daerah karang yang luas , sehingga dapat kita ketahui bahwa banyak ikan jenis napoleon disekitarnya, ikan ini dapat ditemukan disekitar daerah Irian (raja empat dan sekitarnya) , perairan Sulawesi tenggara (kabupaten Buton, Perairan Wakatobi dan sekitarnya) , Periaran Sulawesi Utara (Bunaken dan sekitarnya), Perairan Nusa Tenggara (Sikka dan sekitarnya), perairan Sulawesi selatan (Takabonerate dan sekitarnya), Perairan Maluku. ikan napoleon in banyak dipesan oleh negara-negara luar sana , Maka itu banyak nelayan yang memanfaatkan hal ini untuk dijadikan mata pencaharian. Namun kini kenyataan telah berbeda dengan masa lalu, ikan napoleon yang sering diburu seiring dengan banyaknya karang yang dirusak membuat ikan napoleon semakin sulit ditemukan di laut lepas, tak hanya ikan napoleon namun juga ikan – ikan karang lainnya semakin berkurang. Apabila hal ini terjadi terus menerus , tentu saja tak dapat dihindari atas kepunahannya ikan napoleon dan ikan karang lainnya . apabila ini terjadi maka akan mengganggu ekosistem di bumi ini .

Maka itu banyak sekali Negara – Negara yang sudah mulai melindungi ikan napoleon ini , dengan cara membuat kebijakan untuk melarang penangkapan ikan napoleon ini . berikut merupakan hasil keputusan internasional dan nasional mengenai perlindungan ikan karang napoleon :

  1. International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) telah ditetapkan ikan Napoleon sebagai salah satu ikan yang dilindungi di dunia karena ikan ini telah langka dan terancam populasinya dialam.
  2. Pada COP 13 CITES di Bangkok, Thailand pada tanggal 2 – 14 Oktober 2004 negara-negara anggota CITES telah menyepakati untuk memasukan jenis ikan ini kedalam Appendiks II CITES dan selanjutnya dalam pemanfaatannya harus sesuai dengan ketentuan CITES, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi CITES sesuai Keputusan Presiden Nomor : 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade In Endangered Species (CITES) of Wild Fauna and Flora. Dimana pengaturannya di Indonesia dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan c.q. Dirjen PHKA selaku otoritas pengelola CITES. Sehubungan dengan hal tersebut itu, maka pemanfaatan Ikan Napoleon Wrasse (Cheilinus undulatus) yang tidak dilindungi undang-undang dan termasuk dalam Appendiks II CITES dalam penatau sahaannya diatur sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar, yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah Nomor : 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.

Walaupun kini telah diberdayakan undang – undang perlindungan ikan napoleon ini untuk tidak di buru dalam jangka waktu tertentu , para nelayan dan pengusaha telah berhasil membudidayakan ikan napoleon ini, walaupun pembudidayaan ini masih belum sampai pada tahap pembenihan . sehingga benih yang dipakai masih benih yang diambil dari alam bebas. Namun hal budidaya ikan napoleon ini berhasil dan dapat membantu menggantikan pendapatan para nelayan yang dahulu memburu napoleon secara liar. Dan pemerintah juga mengesahkan perdagangan ikan napoleon yang dibudidayakan .

Keuntungan yang didapat sama dengan pemburuan secara liar, namun saja untuk budidaya ikan ini diperlukan modal yang besar , Investasi yang ditanamkan sebagai modal awalnya berkisar Rp 200 juta-Rp 400 juta per keramba. Investasi tersebut untuk biaya pembelian lahan, pendirian keramba, waring, serta bibit Napoleon. Namun untuk operasionalnya tidak begitu besar, biaya pakan dari awal sampai siap panen pada tahun keempat yang berkisar Rp 8 juta rupiah per petak keramba yang berisi 150 ekor ikan Napoleon. Salah seorang pengusaha bernama Ahmad Jais mengaku, dia bisa melakukan pemanenan sekaligus penjualan hanya satu bulan sekali dengan pendapatan Rp 140 juta setiap transaksinya.

Benih ikan napoleon yang digunakan untuk budidaya biasanya berukuran 5 cm dengan harga berkisar Rp. 300.000. Ukuran benih ikan sangat mempengaruhi keberhasilan dalam berbudidaya. Maka itu akan lebih baik dipilih benih dengan ukuran yang siap tebar sebesar 5 cm. Benih dengan ukuran lebih kecil biasanya juga tersedia di pasaran namun tidak disarankan karena tidak keberhasilan hidupnya sangat kecil atau rentan dengan kematian.

Dengan melihat modal yang sangat besar tersebut , akan sangat dibutuhkan peran pemerintah untuk membantu masyarakat local dalam permodalan usaha ikan napoleon ini. Bantuan pemerintah itu tidak hanya akan dapat membantu perluasan lapangan kerja, juga membantu para nelayan kecil untuk tidak memburu napoleon secara liar lagi sehingga pemerintah juga membantu masyarakat dalam menjaga kelestarian ikan napoleon ini serta hal itu membuat ekonomi Negara semakin bertambah apabila semakin banyak ikan yang diekspor keluar negri , karena dilihat peminat ikan ini juga merupakan masyarakat luar negri . hal ini sangat menguntungkan bagi Negara sendiri .