PENGENALAN MANGROVE

Asal kata “mangrove” tidak diketahui secara jelas dan terdapat berbagai pendapat mengenai asal-usul katanya. Macnae (1968) menyebutkan kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. Sementara itu, menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur. Di Indonesia perkiraan luas mangrove juga sangat beragam. Giesen (1993) menyebutkan luas mangrove Indonesia 2,5 juta hektar, Dit. Bina Program INTAG (1996) menyebutkan 3.5 juta hektar dan Spalding, dkk (1997) menyebutkan seluas 4,5 juta hektar. Dengan areal seluas 3,5 juta hektar (dalam buku panduan ini), Indonesia merupakan tempat mangrove terluas di dunia (18 – 23%) melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 juta ha) (Spalding, dkk, 1997).

Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ekstrim, seperti kondisi tanah yang tergenang, kadar garam yang tinggi serta kondisi tanah yang kurang stabil. Dengan kondisi lingkungan seperti itu, beberapa jenis mangrove mengembangkan mekanisme yang memungkinkan secara aktif mengeluarkan garam dari jaringan, sementara yang lainnya mengembangkan sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya. Dalam hal lain, beberapa jenis mangrove berkembang dengan buah yang sudah berkecambah sewaktu masih di pohon induknya (vivipar), seperti Kandelia, Bruguiera, Ceriops dan Rhizophora.

Fungsi fisik hutan mangrove yaitu menjaga keseimbangan ekosistem perairan pantai, melindungi pantai dan tebing sungai terhadap pengikisan atau erosi pantai, menahan dan mengendapkan lumpur serta menyaring bahan tercemar.Fungsi kimia mangrove yaitu sebagai tempat terjadinya proses daur ulang yang menghasilkan oksigen dan penyerap karbondioksida. Fungsi biologi mangrove sebagai penghasil sejumlah besar detritusyang sebagian diantaranya akan diuraikan dengan unsur harayang berperan dalam penyuburan perairan. Fungsi ekologis mangrove adalah sebagai tempat asuhan , darah mencari makan dan daerah pemijahan berbagai jenis udang, ikan, dan berbagai biota lainnya (Bosire et al., 2005; Bowen et al., 2001; Bengen, 2000)

Pembagian zona mangrove sangat rumit karena terdapat faktor yang saling mempengaruhi baik dari dalam maupun diluar pertumbuhan dan perkembangannya. Berikut merupakan zona pembagian berdasarkan jenis vegetasi yang mendominasi dari arah laut ke daratan menurut Arief, 2003 :

  1. Zona Terbuka : Terletak pada lapisan paling luar dari hutan mangrove. Di zona ini agak berpasir dan berlumpur, terkadang kadar garam tinggi. Contohnya avicennia sp dan sonneratia sp
  2. Zona Tengah : terletak dibelakang zona terbuka. Pada zona ini tanah berlumpur lembek dengan kadar garam lebih rendah
  3. Zona Payau : berada disepanjang air payau hingga hampir tawar. Biasanya di dominasi dengan komunitas nypa dan sonneratia.
  4. Zona Darat : zona perbatasan antara laut dan darat. Contoh Fiscus microcarpus

m