PENYEBAB LUMBA-LUMBA MULAI LANGKA

  • Climate change

Climate change atau juga disebut sebagai perubahan iklim merupakan dampak akibat global warming dimana suhu bumi semakin panas. Tentunya kenaikan suhu ini akan membuat perubahan suhu di lautan juga. semakin menaiknya suhu maka akan menyebabkan spesies di laut terganggu salah satunya adalah lumba-lumba.  Lumba-lumba merupakan hewan yang sering ditemukan di air dingin. Namun dengan adanya kenaikan suhu yang menyebabkan air semakin hangat maka lumba-lumba mencari makan ikan ikan kecil di perairan yang lebih dalam dan dingin. Para ilmuan berpendapat bahwa lumba-lumba memiliki adaptasi terhadap lingkungan yang sangat lambat, maka itu kemungkinan terjadi bahwa lumba-lumba tidak akan dapat bertahan jika kenaikan suhu terus berlangsung karena akan mempengaruhi system hidupnya.

  • Degradasi hutan

Semakin banyaknya populasi manusia maka semakin banyaknya kebutuhan akan lahan dan kayu-kayu pohon. Hal ini menyebabkan banyaknya pohon-pohon di hutan ditebang sehingga terjadi degradasi hutan. Salah satu contoh kasusnya yaitu di perairan kubu raya dan kayong utara, disana terjadi degradasi hutan habitat akibat digunakannya kayu untuk bahan baku bubur kertas komersial sehingga menmpengaruhi perairan sekitar. Aktivitas lalu lintas air yang tinggi dapat menimbulkan stress bagi satwa-satwa sekitar dan dapat mencemari air sungai.

  • Polusi

Lumba-lumba China putih (Sousa Chinensis Chinensis) atau yang biasa dikenal dengan lumba-lumba merah jambu akan mengalami penurunan populasi atau bahkan bisa mengalami kepunahan dalam waktu dekat dan salah satu penyebabnya adalah polusi yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Di perairan Hongkong lumba-lumba langka ini memiliki jumlah populasi 158 ekor pada 2003 silam kemudian di tahun 2011 mengalami penurunan drastis yakni hanya 78 ekor saja dan jika polusi terus meningkat akan mengalami kepunahan.

Samuel Hung selaku ketua organisai konservasi lumba-lumba mengatakan “Kami terancam kehilangan populasi spesies yang langka apabila pemerintah setempat tak mengambil langkah cepat untuk melindunginya.” Bahkan seorang pemandu wisata dari Hongkong melihat sekelompok lumba-lumba merah muda yang sedang menghibur kawannya yang sedang berduka dengan menggendong tubuh lumba-lumba mati tersebut diatas sirip punggungnya.

Polusi lainnya yaitu polusi suara yang ditimbulkan dari boring pertambangan, transportasi kapal, Pelacak ikan berbasis gelombang suara yang sudah digunakan nelayan sejak 1950an. Secara umum, ikan mampu mendengar suara yang berfrekuensi antara 30-1000Hz,meski dengan adaptasi khusus beberapa jenis ikan mampu mendengar suara dengan frekuensi lebih tingga yaitu antara 3000-5000Hz. Bahkan, beberapa spesies ikan tertentu mampu mendengar suara berfrekuensi sangat tinggi. Sementara jenis lain misalnya belut Eropa sangat sensitif terhadap suara infrasonic “Tingkatan dan distribusi suara di bawah air terus meningkat di seluruh dunia namun hampir tidak diperhatikan,” kata Dr Slabbekoorn.

polusi suara juga mempengaruhi kehidupan ikan, misalnya kemampuan bereproduksi, berkomunikasi dan menghindari predator. Sebagai contoh, sejumlah penelitian melaporkan ikan hering Atlantik, kod dan tuna sirip biru ternyata menghindari lingkungan yang terlalu berisik. Hal itu berarti level kebisingan mempengaruhi distribusi ikan karena ikan cenderung mengindari kawasan yang terkena polusi suara buatan manusia. Polusi suara dapat secara signifikan mempengaruhi komunikasi antar ikan. Awal tahun ini, Dr Slabbekoorn mempublikasikan sebuah laporan ilmiah dalam jurnal Behavioral Ecology yang intinya mengatakan bahwa ikan cichlid di Danau Victoria, Afrika Timur menghasilkan suara yang sangat spesifik secara spesies maupun ukurannya. Suara yang dihasilkan itu memainkan peranan penting saat ikan itu mencari pasangan dan melakukan seleksi seksual di antara ikan-ikan yang ada di danau itu. Sehingga selain mempengaruhi distribusi ikan, polusi suara juga mempengaruhi proses reproduksi ikan karena menyebabkan stres, membatasi kemampuan mereka dalam mencari pasangan atau menjauhkan mereka dari lokasi tempat bertelur. Polusi suara juga menyebabkan ikan tak mampu mendengarkan suara antar mereka dan mengurangi kemampuan komunikasinya. Selain itu kemampuan ikan mendeteksi mangsa atau mendengar datangnya pemangsa juga jauh menurun.

Hal yang terjadi oleh ikan juga terjadi pada mamalia laut seperti paus dan lumba-lumba. Karena seperti kita ketahui bahwa lumba-lumba memiliki pendengaran yang sensitive dan mereka juga sering berkomunikasi satu sama lain untuk bergerombol namun dengan adanya polusi suara ini maka terkadang ada lumba-lumba yang terpisah dari gerombolannya dan menjadi mangsa predator diatasnya.

  • Limbah, Sampah (plastic), pertambangan.

Limbah-limbah hasil buangan pabrik maupun limbah rumah tangga hamper semuanya berakhir di muara lalu ke laut. Hal ini sangat berbahaya khususnya bagi hewan-hewan laut. Karena limbah-limbah berbahaya tersebut merupakan racun yang dapat membunuh hewan-hewan laut salah satunya lumba-lumba. Limbah rumah tangga juga dapat menyebabkan blooming plankton yang sering dikenal dengan red tide yang menyebabkan banyaknya ikan mati. Jika ikan-ikan tersebut mati maka semakin berkurang makanan bagi lumba-lumba. Selain itu juga kini sudah banyak kegiatan pertambangan yang hasil buangannya dilarikan ke sungai dan laut. Hal ini juga tentu akan merusak ekosistem dan habitat dari lumba-lumba.

Konsumsi berlebih terhadap plastik, pun mengakibatkan jumlah sampah plastik yang besar. Karena bukan berasal dari senyawa biologis, plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Sampah kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara. Kantong plastik sisa telah banyak ditemukan di kerongkongan anak elang laut di Pulau Midway, Lautan Pacific. Sekitar 80% sampah dilautan berasal dari daratan, dan hampir 90% adalah plastik.

Dalam bulan Juni 2006 program lingkungan PBB memperkirakan dalam setiap mil persegi terdapat  46,000 sampah plastik mengambang di lautan. Setiap tahun, plastik telah ’membunuh’ hingga 1 juta burung laut, 100.000 mamalia laut dan ikan-ikan yang tak terhitung jumlahnya. banyak penyu di kepulauan seribu yang mati karena memakan plastik yang dikira ubur-ubur, makanan yang disukainya.  Hewan-hewan juga dapat terjerat dalam tumpukan plastik.  lumba-lumba, penyu dan anjing laut menganggap kantong-kantong plastik tersebut makanan dan akhirnya mati karena tidak dapat mencernanya. Ketika hewan mati, kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tetap tidak akan hancur menjadi bangkai dan dapat meracuni hewan lainnya.

  • Alat tangkap nelayan

Banyak nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti bom, sianida. Jika pada saat nelayan menggunakannya disekitar lumba-lumba tentu saja lumba-lumba akan terserang dan mati. Tak hanya itu saja namun juga akan merusak ekosistem dilaut.

Selain itu juga banyak nelayan yang menangkap ikan menggunakan trawl, gill net dan semacamnya. Alat tangkap ikan ini tentu sangat berbahaya bagi hewan-hewan laut yang sudah terancam punah seperti penyu, lumba-lumba, hiu, dan semacamnya. Dengan alat ini maka lumba-lumba dan hewan lainnya akan tersangkut dan tak jarang nelayan yang membawa pulang lumba-lumba untuk dikonsumsi. Atau bahkan ada lumba-lumba yang dibuang begitu saja dengan terluka parah yang menyebabkan ikan tersebut mati.

alat tangkap lainnya yang menyebabkan kematian lumba-lumba yaitu electro fish atau alat pancing listrik dimana generator yang ada pada perahu menyalurkan energilistrik pada baterai yang disalurkan kedalam air. Alat pancing ini dapat memanggil ikan dan menyetrum ikan namun juga akan melumpuhkan lumba-lumba. Lumba-lumba dapat tenggelam ketika mereka tidak sanggup berenang ke atas permukaan air untuk bernafas maka mereka akan mati

  • Perburuan lumba-lumba

Masih banyak kini orang-orang yang memburu lumba-lumba untuk sajikan dalam makanan. Tak hanya itu dengan otaknya yang berintelegensi tinggi banyak juga orang yang menjual lumba-lumba sebagai atraksi pertunjukan. Salah satu Negara yang sering mengkonsumsi lumba-lumba yaitu jepang. Bahkan menangkap dan membunuh lumba-lumba merupakan sebuah tradisi bagi Negara ini. Mengkonsumsi ikan lumba-lumba merupakan tradisi bagi penduduk kota taiji, kota pesisir wayakama, jepang bagian tengah. Bagi sebagian penduduk tradisi tersebut telah berlangsung secara turun temurun. Kondisi ini diawali pada masa-masa kekurangan pangan hingga hanya lumba-lumbalah yang menjadi penyelamat makanan saat itu dan tradisi tersebut akhirnya terus menerus dilakukan hingga kini. Bahkan dijepang membunuh lumba-lumba untuk dikonsumsi merupakan sebuah kehormatan dan sebagai tanda jantannya seorang pria.